Indonesia-Malaysia, Berdamailah!

Tak perlu memutuskan hubungan diplomatik kedua negara, tak perlu memaksa pulang para TKI yang sedang bekerja di Malaysia, tak perlu melempar kotoran manusia saat berdemo, apalagi harus unjuk kekuatan militer untuk saling baku hantam dalam sebuah peperangan. Sebuah jalan menuju perdamaian dengan sikap dasar saling menghargai kedaulatan kedua negara, itulah yang kini dibutuhkan.

Tentunya rasa nasionalisme yang kuat tertanam dalam dada rakyat Indonesia patut diacungi jempol dalam menyikapi ketegangan yang tengah terjadi antara kedua negara, berbanding terbalik dengan “lemahnya” sang pemimpin negeri ini yang notabene terdidik dalam dunia kemiliteran.

Negeri sebesar Indonesia jadi kian tak berwibawa dibawah kepemimpinan SBY, apapun alasan dan pembelaan orang-orang yang ada disekelilingnya. Pola diplomasi yang dipertontonkan dihadapan rakyat oleh pemimpin negeri ini, samasekali tak membikin bangga. Rakyat yang menggebu-gebu dalam mengekspresikan nasionalismenya, seperti bertepuk sebelah tangan melihat pemimpinnya lembek seperti ini!.

Insiden berulang-kali yang menggesek hubungan kedua negara tentu tak dapat dijadikan alasan yang cukup kuat untuk salling baku hantam dan memuntahkan amunisi satu sama lain. Sikap tegas seorang pemimpin amat sangat diperlukan dalam menjaga kedaulatan negeri ini, sekaligus untuk meredam kegelisahan yang terjadi ditengah-tengah rakyat. Tegas bukan berarti menuju pada perenggangan, apalagi memutuskan hubungan diplomatik.

Harus disadari bahwa ketegangan-ketegangan seperti ini selalu dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin bermain dan mengambil keuntungan. Baik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok didalam kedua negara yang sedang bersitegang, ataupun pihak-pihak asing yang tengah melancarkan aksi adu domba antar sesama negara ASEAN, juga membidik kekuatan yang sangat mungkin tumbuh dari harmonisnya hubungan kedua negara yang mayoritas berpenduduk muslim ini.

Indonesia dan Malaysia menyimpan potensi untuk menjadi negara yang berpengaruh terhadap peradaban dunia, bahkan menjadi negara yang memimpin dunia. Masing-masing kekuatan politik dikedua negara menunjukkan arah dan cita-cita yang sama, perlahan tapi pasti mereka telah membangun basis-basis peradaban yang baik ditengah-tengah masyarakat. Khususnya Malaysia kekuatan oposisi kini telah mengimbangi kekuatan penguasa yang selama ini banyak melakukan ketidak-adilan dan pembangunan rezim yang hanya menguntungkan kekuatan politik pemerintah.

Begitu pula yang terjadi di Indonesia, walaupun secara kekuatan politik masih lemah, namun cita-cita dan langkah yang tengah dituju perlahan bisa dibumikan dengan baik diseluruh lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kekuatan-kekuatan politik yang ada didalam kedua negara tersebut telah terjalin kerjasama yang cukup baik, bukan hanya antar kedua negara saja melainkan terhadap kelompok-kelompok politik dinegara-negara lain yang mempunyai cita-cita yang sama akan peradaban dunia yang lebih baik.

Perjuangan yang tengah dilakukan tentu tak lepas dari fokus untuk menghadirkan pemimpin-pemimpin nasional dikedua negara buah dari kesadaran rakyatnya akan kualitas hidup yang lebih baik.

Kita harus memastikan bahwa konflik dijalur diplomasi yang kini tengah membelit kedua negara tidak semakin meruncing dan berbuah konflik fisik, karena hanya akan merugikan rakyat dikedua negara dan memberikan keuntungan bagi pihak-pihak yang ingin kita saling baku hantam.

Permainan intelijen dalam hal ini sangat memungkinkan terjadi, baik untuk kepentingan individu maupun pihak-pihak asing diluar kedua negara. Rakyat Indonesia dan Malaysia harus mampu meredam emosi, jangan sampai menjadi korban dari pemimpin-pemimpin korup dan arogan yang hanya mementingkan kekuasaan dan kepentingan politiknya saja.

” Hentikan segala tindakan-tindakan yang negatif dalam menghadapi konflik yang tengah terjadi, jangan sampai musuh-musuh dalam selimut tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan! “


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

57 Responses to “Indonesia-Malaysia, Berdamailah!”

  • berwisata Says:

    Kobarkan Nasionalisme tanpa perang - tetap menjadi Indonesia sejati.
    Berliburkan di negeri sendiri yg sangat indah. Kalau liburan keluar negeri bukan ke Malaysia yg miskin objek wisata, masih banyak tempat menarik seperti Thailand, Turki, China, HKG - Macau
    Belilah BBM dari Pertamina, bukan dari Petronas
    Menabung bukan di Bank yg sahamnya dikuasai Malaysia ( CIMB Group Sdn Bhd = Bank Niaga )
    Kurangi pengiriman TKI tenaga kasar spt tukang kebun, PRT dan kuli bangunan - kirim tenaga tranpil / profesional seperti suster, bidan dokter, mekanik
    Insiden terakhir dgn Malaysia ternyata ada hikmah membangkitkan Nasionalisme Bangsa. Bagaimana pendapat Anda ?

    [Reply]

  • husin Says:

    setuju bangat…. tulisan yang bagus…

    [Reply]

  • lion80 Says:

    KALAU MENURUT SAYA SIH,,KALAU BISA PEMERINTAH INDONESIA MENGURANGI TKI KE MALASYA SOALNYA IBARATNYA SEBAGIAN TKI ADALAH ASET MALASYA,JADI KALAU MISALNYA TKI BERKURANG YANG PASTI PT YANG ADA DIMALASYA PASTI BERHENTI BEROPERASI..JADI PEMERINTAH KITA HARUS TEGAS DAN BERANI
    BAGI YANG MAU BACA KATA-KATA BIJAK SILAHKAN :
    http://colom-cerita.blogspot.com/

    [Reply]

  • anny Says:

    duhhh berantem mulu sih ya ni malay-indo

    [Reply]

  • Admin Says:

    Serbuuuuuuuuuuuuuuuu….!!!!

    (serba Lima Ribu… )

    (Sering baca artikel indonesia malaysia ribut buaaaangeeettt…)

    [Reply]

  • Devy Says:

    terlalu sok tau kamu kalau bilang ketegangan ini bisa dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin bermain dan mengambil keuntungan. Mestinya sebelum menulis tulisan ini kamu pelajari dulu sejarahnya kenapa Bung Karno dulu mengeluarkan slogan “Ganyang Malaysia”, bagaimana latar belakangnya saat itu…sok tau kamu. Belajar lagi sana..

    R2G : sudah menjadi “kebiasaan” bahwa setiap konflik akan selalu ada yang mengambil keuntungan, apalagi jika dikaitkan dengan kepentingan intelijen suatu negara. Tak usah jauh-jauh untuk mempelajari hal besar yang terjadi dalam masa kepemimpinan bung Karno, dalam kehidupan kita sehari-hari saja hal tersebut bisa kita temui pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari keruhnya sebuah hubungan.

    [Reply]

  • ahmad Says:

    Yah..Peace is better.
    NO WAR…!!!

    [Reply]

  • dreamgirl Says:

    setuju setuju setuju….

    [Reply]

  • haerulsohib Says:

    lebih indah berdamai daripada harus bersitegang, apalagi perang.

    [Reply]

  • pengguna yahoo Says:

    saya setuju, tulisan anda SANGAT BAGUS, iya ngga???

    [Reply]

  • yunuschandrawijaya@gmail.com Says:

    jangan perang, tidak akan berdampak baik kepada kedua belah pihak dn ekonomi akan terganggu, Malaysia pasti kalah tapi toh dia bisa minta bantuan dgn negara lain dan kita pasti kalah kalau Malaysia dibantu oleh negara lain, dan kita kalah toh kita jadi malu dan kita minta bantuan pula dgn nagara lain pasti dgn syarat2 yang tidak menguntungkan. jadi kesimpulannya tidak pernah mau perang.

    [Reply]

  • Yunus-Akok Says:

    dan yang suka berkelahi biasanya anak-anak yang belum dewasa. kedewasaan bukan diukur dgn usia, melainkan oleh krn pilihan. ribut melulu, tersinggung melulu,mudah dihasut atau di olok-olok. akhirnya ialah jangan ada perang

    [Reply]

  • antiperang Says:

    Perang , lebih banyak mudharatnya dari pada manfaat….
    Bukankan sesama muslim itu adalah bersaudara…? Insya Allah kaum muslimin selamat dunia dan akhirat…
    Perlihatkan kepada dunia bahwa muslim itu cinta damai… dan Islam adalah pemberi rahmat kepada seisi alam…

    [Reply]

  • DenJaka Says:

    Selama Malingsia tdk mau menghormati :

    - Kedaulatan RI
    - Pemerintah RI
    - Pejabat2 RI
    - Penegak hukum RI
    - Warga Negara RI yg bekerja dan berada disana.

    Hantam saja biar tdk kurang ajar lagi,…

    R2G : menghantam dengan apa gan? wong alat pertahanan kita saja awut-awutan :) . Jalan terbaik adalah menyadarkan masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih pemimpin negeri ini

    [Reply]

  • phey Says:

    intinya masyarakat membutuhkan KETEGASAN Pemerintah RI walopun dengan jalan DIPLOMASI, agar tak selalu “diinjak-injak” Negeri Jiran itu.
    http://caterpillar3516.blogdetik.com

    [Reply]

  • ryan Says:

    Tulisan bagus dan cerdas , anda matang berfikir.
    justru yg mengantakan ‘ganyang malaysia’ itu yg harus belajar banyak sejarah…saya tau betul sejarah.
    Bagaimanapun damai itu lebih baik. jgn bicara nasionalisme jika sejatinya belum melakukan apa-apa untuk negeri tercinta ini. minimal dilingkungan anda. yg paling REMEH..!!!! JAGA KEBERSIHAN..jgn mudah melontarkan kata2 kotor sesama warga. Lihat Berita yg banyak…! baca…! dengar..! sering berjalan-jalan diantara hiruk pikuk warga mikin & hancur mental & akhlaknya…baru bicara nasionalis…..semakin anda membuka mata lebar-lebar akan realitas indonesia saat ini. mungkin anda bisa MENGERTI…Banyak yg harus dibenahi di bumi indonesia ini. JANGAN SOK JAGO..!!! Lakukan saja apa yg anda mampu untuk memperbaiki negeri ini..jgn banyak bicara kalau itu memperkeruh suasana.

    Damailah Negeri ku…………

    [Reply]

  • andri Says:

    Saya pribadi melihat kecenderungan, perang fisik bukan lagi menjadi pilihan terbaik (gak gaul deh..hihi). Bumi ini berubah karena otak manusia, kemampuan membuat network. Kenapa banyak produk import yang sebenarnya kita mampu membuat (lihat sekitar meja kerja kita), kenapa banyak manager import padahal kita mampu. Kita menjadi terjajah apabila yang cuma pegang peranan cuma otot. Menjadi bangsa yang cuma mengkonsumsi produk asing padahal kita bekerja untuk mereka bukan pilihan baik kan? Sekarang mandiri, perbaiki otak kita dengan belajar, kalahkan mereka…

    [Reply]

  • deni Says:

    sukarno=ganyang malaysia. suharto=ganyang sukarno,masukkan sukarno kepenjara kalau sakit jangan diobati. itulah kualat makanya jangan sok ganyang2 nanti kamu sendiri yang kena ganyang.

    [Reply]

  • Admin Says:

    Thanks Gan Udah Mampir… Good Pageee… :D

    tetap semangat menulis…

    mari kita tunjukkan ke Negara Negara tetangga Kita bahwa Kita (Bangsa Indonesia) adalah Bangsa yang “Elegan” dan bukan Bangsa Buruh seperti yang Negara Lain anggap, Jadikan Indonesia Tetap sebagai Macan Asia…. Merdeka…!!!

    [Reply]

  • nugio Says:

    cuma meluruskan.mungkin anda terlalu kecewa dengan masa kepemimpinan SBY.tapi jangan sudutkan dengan “kesalahan memilih pemimpin” coba ambil kenyataan bahwa SBY sedang memimpin dan rakyat harus percaya dengan pimpinan, tarutama untuk urusan eksteren.kalo urusan dalam negeri silakan sebagai oposisi dan tetap dalam kadar yang benar..
    kita mungkin muak dengan kebohongan dan sudah tidak lagi percaya dengan pemerintah..saat ini datang MOMENTUM untuk mengikis rasa muak itu.tapi anehnya kita selalu mengedepankan rasa gak puas.
    ANDA PERCAYA PIMPINAN ANDA PUNYA VISI? HARUS!!!
    Diluar KKN Orde Baru, ada visi yang tercipta, pun juga dengan Orde lama bukan?
    beli sukhoi pake beras rakyat mencemooh, disuruh belajar malah tawuran, capek sedikit ngeluh pengen yang gampang..kita masih terjajah oleh diri kita sendiri..

    teriak kata2 “kebijakan gak populis”, ya karena kita cuma taw setengah2, visi gak ada cuma bisa komentar..

    ya itu lah KITA dan kita wajib sadar bahwa KITA diremehkan NEGERI sebelah..ini MOMEN kita buat bangkit, jangan salahkan siapapun, BANGKITLAH masing2 jiwa INDONESIA!!!

    TOLONG COBA KEMBALI MEMPERCAYAI PIMPINAN TERTINGGI.

    [Reply]

  • Faizal | Akselera Says:

    mantap gan,,,Perlihatkan kepada dunia bahwa muslim itu cinta damai… dan Islam adalah pemberi rahmat kepada seisi alam

    [Reply]

  • reina Says:

    Bangga ,harga diri bangsa,nasionalisme adalah kesukaan iblis. Manusia yang paling mulia dimata Allah SWT adalah yang selalu memaafkan,rendah hati,berdamai dengan siapapun dan sabar.Orang yang paling sabar akan dilindungi Allah SWT.

    [Reply]

  • ikin Says:

    “Sikap tegas seorang pemimpin amat sangat diperlukan dalam menjaga kedaulatan negeri ini, sekaligus untuk meredam kegelisahan yang terjadi ditengah-tengah rakyat. Tegas bukan berarti menuju pada perenggangan, apalagi memutuskan hubungan diplomatik.”

    Lha, menurut kamu sendiri, sikap yang tegas dari pemerintah itu yang seperti apa?
    Ini artikel arahnya kemana sih?
    Gak jelas!

    R2G : apa anda tidak mendengar kesimpang siuran diseputar konflik ini?, juga tidak melihat rakyat berkicau “ganyang” sementara pemimpinnya lamban, apakah anda juga tidak membaca bau kepentingan pejabat terkait atas konflik yang terjadi ????

    [Reply]

  • juara Says:

    Mulai dari sekarang introspeksi bahwa bangsa indonesia lemah.,miskin dan tidak mampu sehingga pelecehan suatu bangsa harus diterima dengan lapang dada namun menjadi PR buat pemerintah akankah kita dapat mempersiapkan diri untuk tidak dilecehkan lagi. SIAP TIDAK MENJADI PECUNDANG !!!!!

    [Reply]

  • Asrul Says:

    Setuju banget, karena Indonesia dan malaysia pada dasarnya dulu pernah menjadi satu wilayah kerajaan, Belanda dan Inggris lah yang membelah belah nya… Indonesia Malaysia ibarat dua saudara KAndung yang dipisahkan sejak bayi dan baru bertemu setelah beranak cucu

    [Reply]

  • riri Says:

    Jika mau dibilang nasionalis, ya belajar lah supaya pintar. Abdikan ilmu untuk yg terbaik bagi Indonesia tercinta. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Aku cinta Indonesia.

    [Reply]

  • harpe Says:

    Tulisan yang bagus..di sisi positifnya, pemerintah tidak menyambut ‘nasionalisme’ rakyatnya dengan membuka pintu perang..semua punya makna. Kita yang belum mampu memaknai

    [Reply]

  • andy Says:

    Walau apa pun terjadi, Benteng kita seharusnya terletak pada Agama..

    Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat. (Al Hujarat : 10)

    ‎”Barang siapa yang membunuh seorang mukmin dan dia memang berencana untuk membunuhnya maka Allah tidak akan menerima pembayaran atau tebusan darinya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih, dari Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu �anhu)

    Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (An-Nisaa93)

    [Reply]

  • JAI Says:

    Semoga keamanan antara Indonesia dan Malaysia terus terjalin. Peace Bro…mintak kebenaran untuk link ke blog saya untuk blog entri mas..

    [Reply]

  • Jerry Says:

    Tidak ada yang baru dalam wacana dari blog ini. Semua cerita lama!

    [Reply]

  • Kang Yudhie Says:

    Info Untuk d’Blogger, Pengen Tau Siapa ajja yang udah Mampir / Nyasar ke Blog Kamu dan tau Berapa orang yang Berkunjung…??? Klik ajja Tips & Trick ini : Cara Pasang Geovisite Toolbar di Blogdetik Selamat Mencoba, semoga sukses..!!

    [Reply]

  • Sirpa Says:

    Soal pengiriman TKI ke Malaysia … usul saya kalau bisa TKI yang dikirim kesana , sudah dilatih dasar2 kemiliteran . Pokoknya buat jaga2 klo jadi perang antar Malingsia Vs Indonesia … paling tidak kita sudah punya manpower ( 2 juta orang ) yg sudah nyusup di sono

    [Reply]

  • iboeng1211 Says:

    terkadang kita juga perlu beri peringatan yang keras kepada mereka yang telah merusak harkat dan martabat kita

    saya lebih setuju GAYANG MALAYSIA

    [Reply]

  • GANYANG KORUPTOR!!! Says:

    Beli BBM dari pertamina = dikorup orang pertamina & partai2nya, plus fuel pump jebol karena dioplos.
    Hutan dijarah malaysia ribut, yang dijarah para oknum pejabat korup gimana?.
    Ikan dijarah malaysia ribut, yang dijarah para oknum pejabat yang korup gimana?.
    Pulau diakui malaysia ribut, yang dimiliki pejabat korup gimana?,dipulau seribu banyak tuh.DLL.
    Nabung di Bank negeri sendiri, sama aja gak ada rugi dan untungnya, malahan Bank BUMN banyak dikorup, buat dana partai lah, buat pemilihan gubernur lah, buat DPRD lah.
    Masih untung ada yang mau ngegaji TKI kita di malaysia, lah sampeyan mau nanggung para TKI & keluarganya?, atau kasih kerjaan saja deh,tidak perlu memberi makan & uang gratis.
    Mereka kesulitan mencari kerja, karena lapangan kerja dilahap para anak pejabat yang korup, bermodal KKN doang.
    Terus apa untungnya buat masyarakat banyak?
    Pertanyaannya, apakah Indonesia mencintai kita?.
    Di era globalisasi ini, kayaknya sama aja, mau negara manapun juga, yang penting mampu mengayomi & mensejahterakan kita.Think Globally, Kita hidup di satu Dunia, Dunia itu bukan Indonesia saja.Lihat kenyataan aja deh.

    [Reply]

  • wisongko Says:

    Pertama :Saya kecewa dengan sikap SBY sebagai negarawan yang sibuk pencitraan diri dan keluarga,mestinya bisa lebih tegas menyikapi hubungan yang semakin memanas,
    ” Ganyang - malingsial ”

    kedua :Saya juga kecewa dengan FPI : kalo demo mengkritik pemerintah begitu beringasnya , disaat negara terancam kedaulatannya ngga kelihatan hidungnya, mana Nasionalismenya ?

    [Reply]

  • wisongko Says:

    Dulu dengan bermodal tekad, semangat dan bambu runcing saya kita bisa mengusir penjajah,

    Kita harus bangga punya TNI yang terlatih, insya alloh

    [Reply]

  • Hilman Says:

    Menurut saya tulisan ini agak aneh. Satu sisi penulis mencoba mengkritik habis-habisan pemerintah yang lebih mengedepankan jalur diplomasi ketimbang mengobarkan semangat peperangan.

    R2G : agak aneh juga jika anda bilang penulis mengkritik pemerintah habis-habisan, padahal fakta tulisan mengatakan kedua pemerintahan patut untuk dikritisi atas sikap-sikapnya selama ini, termasuk juga sikap rakyatnya dalam memilih pemimpin dikedua negeri. Jadi bukan hanya pemerintahnya SBY juga negeri sebelah. He…he…he… jadi ketahuan kan siapa yang aneh?, coba deh baca ulang biar komentarnya lebih tepat :)

    Tapi disisi lain, apalagi paragraf-paragraf terakhir, penulis malah memilih agar kedua negara berdiplomasi dan menghindari peperangan yang mungkin disusupi pihak-pihak lain yang mencoba mengambil keuntungan. :)

    R2G : anda salah mengerti jika penulis menolak “diplomasi” yang telah dilakukan oleh SBY, ketegasan juga diperlukan dalam berdiplomasi kan?, dan itu tidak berarti mengobarkan peperangan!

    Tapi memang sebagian besar masyarakat kita lebih senang mengkritik orang lain, tanpa memberikan solusi cerdas! Tak peduli orang lain itu sejalan atau tidak dengan kita, yang penting kritik dulu! Meskipun ujung-ujungnya pemikiran kita ternyata ngga jauh beda dengan orang yang kita kritik. :P

    R2G : termasuk anda juga tentunya, telah bersibuk-sibuk “copy paste” tulisan dalam kolom komentar untuk memberikan kritik tanpa meninggalkan sedikitpun solusi bagi penulis, apalagi bagi pemerintah yang dikritik oleh penulis :)

    Aneh…., aneh….
    R2G : salam aneh juga :)

    [Reply]

  • najib Says:

    Nasionalisme jangan sempit,picik,membusung dada. Nasionalisme jangan membabi buta. Nasionalisme jangan hantam kromo.Nasionalisme harus cerdas,santun dan islami.

    [Reply]

  • najib Says:

    Nasionalisme jangan sempit,picik,membusung dada. Nasionalisme jangan membabi buta. Nasionalisme jangan hantam kromo.Nasionalisme harus cerdas,santun dan islami.

    [Reply]

  • made pramasti Says:

    Sebagai negara bertetangga memang seharusnya saling menghormati serta tidak saling mengganggu, tetapi kalau kedaulatan negara kita sudah diusik apa salahnya juga pemerintah kita harus bersikap tegas, tegas bukan berarti harus perang.
    Jangan juga kita bersikap permisif karena kita selalu dinina bobokan dengan pernyataan saudara serumpum melayu, ingat Indonesia itu lebih banyak terdiri dari suku non melayu, jangan mau dikadalin.

    [Reply]

  • Menjadi Blogger yang Bahagia Says:

    Kalau masih ada jalan untuk damai, damai sajalah… Malasyia dan Indonesia tuh sama2 basis islam di dunia…. justru “mereka” akan tertawa jika sampai terjadi baku hantam diantara kedua negara ini.

    [Reply]

  • Yosef Says:

    Damai memang indah..,diplomasi perlu…, perang memang bukan jalan utama…,akan Tetapi bila kita di tantang dan diplomasi tidak dihiraukan kita harus memberi suatu setimulan pada musuh kita..,kita di ejek kita harus lebih bisa membalas mempermalukan dia di mata dunia… itu yang terpenting!!!!, contoh batik.. si malaysia sudah tidak bisa mengakui lagi batik milik dia..,karena UNESCO sudah resmi menyatakan: batik merupakan alah satu budaya warisan dunia asli Indonesia…. PATEN…, Hei Malulah Malaysia… jangan lagi kau mengaku-akui dan merebut milik Indonesia Raya lagi..,jangan engkau rakus jadi bangsa.. dimana mukamu Malaysia…,kenapa terlihat seperi kepala teng.. muka anyaman bambu hei malaysia…

    [Reply]

  • Banyak Omong Says:

    Yang sibuk ngajak perang, gw pengen lihat di lapangan…apa bener2 berani atau omdo…dipikir perang itu enak apa???

    [Reply]

  • Daniel Says:

    Damai Tapi Tegas….!!!

    [Reply]

  • irma Says:

    yak..

    tegas bukan berarti perang kan..

    punya sikap .. itu yg penting!

    [Reply]

  • indonesian idiot Says:

    SETIDAKNYA KORUPTOR DI MALAYSIA GAK RAKUS MACAM KORUPTOR DI INDONESIA, MUTU BARANG-BARANG YG DI BUAT DI MALAYSIA LEBIH BAGUS, KADARNYA BAGUS, TIMBANGANNYA JUJUR, SUSU, COKLAT, DLL DARI MEREK YG SAMA TAPI YG SATU BUATAN MALAYSIA & YG LAINNYA BUATANNYA INDONESIA MASIH LEBIH BAGUS YG BUATAN MALAYSIA, RAKYAT, PEJABAT, PENGUSAHA, PEKERJA DI INDONESIA SEMUA LULUS CUM LAUDE DALAM ILMU TIPU-MENIPU

    [Reply]

  • Hilman Says:

    Tentunya rasa nasionalisme yang kuat tertanam dalam dada rakyat Indonesia patut diacungi jempol dalam menyikapi ketegangan yang tengah terjadi antara kedua negara, berbanding terbalik dengan “lemahnya” sang pemimpin negeri ini yang notabene terdidik dalam dunia kemiliteran.

    Negeri sebesar Indonesia jadi kian tak berwibawa dibawah kepemimpinan SBY, apapun alasan dan pembelaan orang-orang yang ada disekelilingnya. Pola diplomasi yang dipertontonkan dihadapan rakyat oleh pemimpin negeri ini, samasekali tak membikin bangga. Rakyat yang menggebu-gebu dalam mengekspresikan nasionalismenya, seperti bertepuk sebelah tangan melihat pemimpinnya lembek seperti ini!.

    R2G : agak aneh juga jika anda bilang penulis mengkritik pemerintah habis-habisan, padahal fakta tulisan mengatakan kedua pemerintahan patut untuk dikritisi atas sikap-sikapnya selama ini, termasuk juga sikap rakyatnya dalam memilih pemimpin dikedua negeri. Jadi bukan hanya pemerintahnya SBY juga negeri sebelah. He…he…he… jadi ketahuan kan siapa yang aneh?, coba deh baca ulang biar komentarnya lebih tepat

    R2G : kurang lengkap nih tambahannya…….

    Indonesia dan Malaysia menyimpan potensi untuk menjadi negara yang berpengaruh terhadap peradaban dunia, bahkan menjadi negara yang memimpin dunia. Masing-masing kekuatan politik dikedua negara menunjukkan arah dan cita-cita yang sama, perlahan tapi pasti mereka telah membangun basis-basis peradaban yang baik ditengah-tengah masyarakat. Khususnya Malaysia kekuatan oposisi kini telah mengimbangi kekuatan penguasa yang selama ini banyak melakukan ketidak-adilan dan pembangunan rezim yang hanya menguntungkan kekuatan politik pemerintah.

    Seperti yang sudah saya tulis dalam komentar diatas bahwa ketegasan dalam hal ini bukan berarti selaras dengan keingin rakyat yang ingin mengganyang Malaysia.

    Lalu apa tanggapan anda atas komentar saya yang mengatakan anda pun tak membawa solusi ? :)

    atau lebih baik anda mengcounter opini atas tulisan saya dengan membuat postingan, sekali-kali lihat tuh blog keroyokan disebelah :)

    [Reply]

  • ganto Says:

    Jika malaysia menangkap pejabat kita maka kita tangkap juga pejabat mereka. Jika mereka melecehkan kita lecehkan juga mereka. Jika mereka membajak,menciplak,meniru,mencuri ikan,menganiaya dll maka kita juga melakukan itu. Jadi kenapa musti keblenger. Kenapa musti perang. Begitu aja kok repot.

    [Reply]

  • Yuli Says:

    Jika malaysia mencaplok pulau indonesia,maka caplok aja pulau-pulau malaysia. Apabila perlu caplok yang lebih banyak biar tau rasa dia. Jika malaysia bilang malaysia truly asia maka indonesia bilang indonesia super truly asia. indonesia juga punya supermi. gitu saja kok repot.

    [Reply]

  • Yuli Says:

    Tiap tahun asap dari kebakaran hutan indonesia masuk kemalaysia tapi malaysia tidak ribut tapi jika indonesia yang dirugikan jadi ribut setengah mati.

    [Reply]

  • Tanah abang Says:

    sudah lah berdamai saja, sudahi semuanya

    [Reply]

  • jack Says:

    halah…., pejabat indonesia juga rakus kepala teng…, muka anyaman bambu…,katannya cinta negeri cinta tanah air tapi kenapa korupsi???, gak punya malu mencaplok uang negara..,sama aja dengan Malaysia..,itu para koruptor di penggal aja kepalanya…,itu yang bikin lemah bangsa indonesia…

    [Reply]

  • penjernih air Says:

    setuju, damai tanpa adanya peperangan, tp jgn kita hanya manut sm malaysa, ayo dong pemimpin bangsa yg tegas menghadapi konflik ini

    [Reply]

  • faza Says:

    hari gini perang………
    cuapekkk deh……

    [Reply]

Leave a Reply