5 Penyebab Kekalahan Jokowi di Pilkada DKI Jakarta!

17 Sep 2012

Seorang pemimpin yang mengusung perubahan telah datang. Putaran pertama dipilkada DKI Jakarta telah menunjukkan bahwa Jokowi-lah satu-satunya yang mampu memberikan tamparan telak bagi calon gubernur incumbent Fauzi Bowo alias Foke.

Jelang pencoblosan tanggal 20 September 2012 mendatang aroma kemenangan mutlak untuk mengkanvaskan Fauzi Bowo bahkan digadang-gadang hingga mencapai 70 persen oleh para pengamat dan pendukung pria kalem asal Solo ini.

Harus diakui bahwa Jokowi dengan baju kotak-kotaknya telah meyakinkan banyak pihak bahwa “angin perubahan” untuk Jakarta Baru itu ada ditangannya bukan ditangan calon gubernur incumbent. Fauzi Bowo adalah ikon kegagalan bagi sebagian besar warga Jakarta dan warga luar Jakarta yang telah terpesona oleh pancaran citra yang begitu besar dari seorang Jokowi.

Dukungan media yang begitu besar terhadap Jokowi mengingatkan kita beberapa tahun silam akan citra politik Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai orang yang teraniaya rezim Megawati yang menghantarkannya dua kali menjadi presiden . Citra politik yang begitu besar melebihi “kemampuan” yang sebenarnya dimiliki telah terbukti banyak membutakan banyak pihak, sehingga menutupi kelemahan kepemimpinan yang teramat vital. Bahwa seorang pemimpin yang terlahir dari pencitraan hanya akan menunggu waktunya saja untuk hancur, karena modal terbesarnya hanyalah popularitasnya saja.

Beda dengan pemimpin-pemimpin yang terlahir dari sebuah sistem yang tertata rapi, kehadirannya bukan hanya untuk menonjolkan kepemimpinannya seorang diri, tetapi membawa sekaligus mewariskan kepemimpinan-kepemimpinan selanjutnya yang tersistematis. Semakin besar pendukung yang terbangun oleh nilai bukan citra, akan semakin menyuburkan kelahiran pemimpin-pemimpin selanjutnya. Bukan malah menjadikan dirinya menjadi seorang pemimpin satu-satunya yang terbaik bagi rakyatnya.

Pemimpin seperti Ir. Soekarno mungkin bisa dijadikan contoh, andai saja ide nasakom tidak menjadi bagian sejarah politiknya. Karena beliau terlahir dari semakin baik dan banyaknya intelektual muda yang terlahir dimasa merebut kemerdekaan kemerdekaan.

Fenomena SBY & Jokowi adalah fenomena pemimpin yang terlahir bukan dari rakyat yang tercerdaskan pilihan politiknya, melainkan tumbuh dari pencitraan media yang kemudian melahirkan dukungan yang membabi-buta dan miskin nilai.

Tanda-tanda kekalahan Jokowi memang tidak disadari oleh para pendukungnya, karena luapan emosi kemenangan diputaran pertama telah membutakan. Sehingga menjadikan Jokowi menjadi sosok pemimpin tanpa cela. Kalaupun ada pihak-pihak yang menunjukkan kelemahan Jokowi serta-merta dicap sebagai bagian dari calon incumbent Fauzi Bowo.

Berikut beberapa hal yang secara “moril” akan membuat Jokowi kalah dipilkada DKI Jakarta,

Pertama, bahwa ketidak-amanahan Jokowi dalam menyelesaikan masa jabatannya di Solo akan terulang kembali. Ini terbukti dari ketidak-tegasannya untuk menyatakan bahwa ia akan menyelesaikan masa jabatannya jika kelak terpilih menjadi gubernur di DKI Jakarta.  Kalaupun ada ucapan yang kemudian menyatakan Jokowi akan memegang amanah 5 tahun tersebut, namun itu terlihat sebagai pencitraan saja. Karena jauh setelah PKS membeberkan poin-poin yang ditawarkan kepada Jokowi jika ingin mendapat dukungan tidak ada respon sama sekali barulah ada pembicaraan soal tersebut. Berbanding terbalik dengan slogan dalam gambar diatas yang berbunyi “Pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu”

Kedua, kebohongan publik yang telah dilakukannya dengan mencitrakan diri sebagai bukan bagian dari partai politik dan memposisikan diri sebagai “semut melawan gajah” atas calon gubernur incumbent Fauzi Bowo. Padahal PDIP dan Gerindra adalah partai dibalik kesuksesan Jokowi di Pilkada Jakarta dengan berbasis dukungan politik tahun 2009 yaitu sekitar 24%, selebihnya didapatkan dari hasil pencitraan yang dibangun oleh Jokowi. Satu hal lagi bahwa Jokowi adalah bagian dari PDIP, ini dibuktikan dengan ucapannya bahwa ia hadir di Jakarta adalah titah dari Megawati sang ketua umum PDIP.

Ketiga, tidak jelasnya program yang diusung oleh Jokowi dalam pilkada DKI Jakarta. Disatu kesempatan debat calon gubernur DKI Jakarta yang digelar oleh KPUD dan disiarkan oleh televisi, Jokowi bahkan mengatakan bahwa pembangunan di DKI Jakarta sudah ada blueprint-nya hanya tinggal soal melaksanakannya saja. Bukankah artinya Jokowi hanya akan melanjutkan program yang sudah ada sebelumnya?, termasuk yang tengah dilakoni oleh calon incumbent Fauzi Bowo.

Keempat, fanatisme buta para pendukung Jokowi hingga “bullying” baik terhadap Fauzi Bowo dan pendukungnya sehingga  menghasilkan sikap anti kritik dan menganggap bahwa segala keburukan adalah untuk Fauzi Bowo dan segala kebaikan adalah milik Jokowi, titik!.

Kelima, pelecehan terhadap ulama dan nilai-nilai yang disampaikan yang dilakukan pendukung dan timses Jokowi, meskipun itu bersumber dari ajaran agama. Bukankah menolak kebenaran dan menyepelekan pihak lain adalah bagian dari kesombongan?, dan kesombongan itu akan meruntuhkan dan menghancurkan.

***

Hiruk-pikuk politik yang hanya berkutat pada fanatisme buta, miskin nilai dan terbalut oleh pencitraan, kebohongan politik hanya akan menambah panjang waktu bangkitnya negeri ini dari keterpurukan. Karena harapan-harapan yang ditampilkan hanyalah fatamorgana, karena model-model lahirnya pemimpin tidak berbanding lurus dengan semakin baiknya kualitas dari pemilihnya. Semoga Jokowi dan fans fanatiknya menyadari hal tersebut.

Sumber Gambar


TAGS Jokowi Fauzi Bowo


-

Author

Follow Me