Salahkah Jika Media Mainstream Ikut Berpolitik?

1 Oct 2012

Kita sadari bahwa media mainstream memegang peranan penting sejak era reformasi bergulir. Jatuhnya rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun lebih, salah satu penyebabnya adalah dari meratanya penyebaran informasi akan keinginan perubahan yang digagas kaum intelektual terhadap khalayak luas.

Kemurnian media mainstream dalam menyebarkan informasi pada awal-awal reformasi jelas sangat membantu gerakan mahasiswa kala itu. Sehingga tingkat kekacauan yang terjadi dimasyarakat tidak sampai ketitik terparah, dengan legowonya Soeharto untuk turun dari kursi kepresidennya. Saat itu media boleh dikatakan sebagai pengobar semangat perubahan keseantero negeri.

Namun hanya sementara waktu saja media mainstream mengambil peran elok atas era reformasi, karena beberapa tahun kemudian perannya terasa sangat kebablasan. Menganggap semua informasi layak untuk ditampilkan ke publik meskipun itu melanggar hak privacy pihak-pihak tertentu. Era kebebasan pers disalah-artikan sebagai kebebasan tanpa batasan.

Memang tidak semua media mainstream melakukan kekonyolan atas nama kebebasan pers. Masih banyak insan-insan yang bekerja dimedia mainstream yang masih memegang idealisme tinggi. Tidak menumpukan hasil kerjanya demi menuruti tekanan pemilik media atau sekadar lembaran rupiah.

Tetapi kini sejak media dikuasai oleh pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia politik, sangat terasa bahwa informasi-informasi yang disampaikan memiliki kecenderungan hanya untuk memenangkan kepentingan politik yang diusungnya, tak lagi mementingkan “cover both side”. Urusan salah pemberitaan urusan belakang, yang penting publik sudah menelannya.

Sering kita dapati tidak netralnya sebuah pemberitaan disampaikan secara masif, tetapi ketika ada pihak-pihak yang mengkoreksi berita yang disampaikan dan itu sebuah kebenaran, porsi yang diberikan hanya sedikit dan terkesan ditutup-tutupi atau bahkan menimbulkan kesan bahwa informasi awal lebih valid dari bantahan meskipun itu benar.

Sebagai penikmat informasi pun  kita lebih sering untuk menggunakan informasi awal sebagai sebuah kebenaran mutlak dan tak menghiraukan lagi atas koreksi atas pemberitaan itu setelahnya.

Apa yang terjadi kini, ketika media mainstream ikut terjun kedalam dunia politik ditengah semakin tingginya tingkat apatisme publik terhadap wakil rakyatnya jelas semakin memperparah kondisi. Setiap hari publik disodori “keburukan” wakil rakyat mereka, sehingga mengesankan sudah tidak ada kebaikan didalamnya. Semua dianggap hitam padahal belum tentu sepenuhnya benar hitam, menihilkan sisi yang seharusnya akan tetap ada dan saling beriringan.

Berlebihannya informasi yang disampaikan oleh media mainstream  kepada publik bukan hanya dalam sisi keburukan, juga kebaikan jika itu sejalan dengan kepentingan politik yang diusungnya, bila berseberangan kebaikan itu akan tampak sebagai sebuah keburukan.

Kembali kepada pertanyaan judul postingan ini, salahkah jika media mainstream ikut berpolitik?.

Menurut penulis hal tersebut tak ada salahnya jika kemudian media memberikan kontribusi positif terhadap perbaikan negeri ini, bukan sebaliknya. Media berpolitik dengan santun, menginformasikan baik-buruknya dunia politik dan para pelakunya secara proporsional dan berlandaskan sebuah kejujuran dan terlepas dari ketidak-sukaan apalagi dendam dalam menginformasikan pihak-pihak yang kebetulan berlawanan sikap dan pandangan politik.

Jangan sampai publik mengambil sikap atas sebuah informasi yang disampaikan tidak berpijak dari informasi yang benar apalagi menyudutkan dan disinformasi hanya demi sebuah kepentingan politik dibelakanganya.

sumber gambar


TAGS reformasi publik politik


-

Author

Follow Me